Saat ini, jumlah penduduk Kampung Naga diperkirakan ada sekitar 300 jiwa lebih, yang terbagi dalam 109 kepala keluarga (KK). Karena itu jumlah bangunan rumah di Kampung Naga ada 109, ditambah dengan bangunan khusus sebanyak 4 buah, maka total bangunan ada 113. Bangunan khusus ini terdiri dari:

  • Bumi Ageung (rumah untuk menyimpan pusaka dan dianggap keramat)
  • Bumi Patemon (tempat untuk pertemuan warga)
  • Masjid
  • Leuit (lumbung padi bersama)
Kampung Naga
Salah satu kios yang menjual souvenir

Baca entri selengkapnya »

Lokasi Kampung Naga bisa dicapai dengan melewati jalan raya yang menghubungkan Garut dengan Tasikmalaya. Jaraknya kurang lebih 26 km dari Garut, atau kalau dari Tasikmalaya sekitar 30 km. Pada saat sampai di lokasi, pengunjung akan disambut oleh gapura selamat datang dan juga monumen kujang yang didirikan oleh Pemerintah Daerah setempat. Dari sini, untuk menuju ke Kampung Naga-nya masih harus jalan kaki menuruni turunan tangga sepanjang 500 meter dengan kemiringan 45 derajat. Menurut kepercayaan setempat, jumlah anak tangga ini tidak akan pernah sama jumlahnya apabila dihitung. Bahkan konon katanya, apabila ada dua orang yang menghitung jumlah anak tangga tersebut tanpa janjian terlebih dahulu, dan kemudian mendapatkan jumlah yang sama, maka kedua orang beruntung itu niscaya akan terkabul segala permohonannya.

Kampung Naga

Salah satu rumah di tengah sawah sebelum memasuki Kampung Naga

Baca entri selengkapnya »

Kita tahu, penyebaran agama islam secara pesat dimulai sejak abad XV, yang ditandai oleh berdirinya Kesultanan Demak Bintara di Jawa Tengah. Sejak saat itu pengaruh agama Islam mulai menyebar ke seluruh pelosok Pulau Jawa, tak terkecuali ke daerah Jawa Barat. Pada awal abad ke XVI, Kerajaan Galunggung di bawah kepemimpinan Prabu Rajadipuntang menyatakan diri sebagai kerajaan yang memeluk agama Islam, dan dengan demikian tidak lagi menganggap Kerajaan Padjadjaran sebagai pusat. Hal ini tentu membuat Prabu Surawisesa sebagai Raja Padjadjaran saat itu marah besar, sehingga dia mengerahkan prajuritnya untuk menggempur Kerajaan Galunggung. Menghadapi serangan ini, Prabu Rajadipuntang memerintahkan anak bungsunya, Singaparna, supaya mengungsi untuk menyelamatkan harta pusaka kerajaan. Untuk melaksanakan tugas itu, Singaparna dibekali dengan ilmu yang bisa membuat dirinya nyumput buni dina caang (bersembunyi di keramaian). Dalam pelariannya itu, Singaparna akhirnya sampai di daerah Neglasari. Suatu hari dia mendapatkan petunjuk untuk melakukan semedi. Dalam persemediannya itulah, Singaparna mendapat wangsit untuk tinggal di suatu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga. Selanjutnya, oleh masayrakat setempat disebut dengan Sembah Dalem Singaparna.

Kampung Naga
Salah satu sudut Kampung Naga dilihat dari dekat

Baca entri selengkapnya »