Kampung Naga (1) – Sejarah Kampung Naga

Posted: Maret 12, 2011 in Kampung Naga, Sejarah
Tag:,

Kita tahu, penyebaran agama islam secara pesat dimulai sejak abad XV, yang ditandai oleh berdirinya Kesultanan Demak Bintara di Jawa Tengah. Sejak saat itu pengaruh agama Islam mulai menyebar ke seluruh pelosok Pulau Jawa, tak terkecuali ke daerah Jawa Barat. Pada awal abad ke XVI, Kerajaan Galunggung di bawah kepemimpinan Prabu Rajadipuntang menyatakan diri sebagai kerajaan yang memeluk agama Islam, dan dengan demikian tidak lagi menganggap Kerajaan Padjadjaran sebagai pusat. Hal ini tentu membuat Prabu Surawisesa sebagai Raja Padjadjaran saat itu marah besar, sehingga dia mengerahkan prajuritnya untuk menggempur Kerajaan Galunggung. Menghadapi serangan ini, Prabu Rajadipuntang memerintahkan anak bungsunya, Singaparna, supaya mengungsi untuk menyelamatkan harta pusaka kerajaan. Untuk melaksanakan tugas itu, Singaparna dibekali dengan ilmu yang bisa membuat dirinya nyumput buni dina caang (bersembunyi di keramaian). Dalam pelariannya itu, Singaparna akhirnya sampai di daerah Neglasari. Suatu hari dia mendapatkan petunjuk untuk melakukan semedi. Dalam persemediannya itulah, Singaparna mendapat wangsit untuk tinggal di suatu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga. Selanjutnya, oleh masayrakat setempat disebut dengan Sembah Dalem Singaparna.

Kampung Naga
Salah satu sudut Kampung Naga dilihat dari dekat

Cerita di atas adalah salah satu versi mengenai sejarah Kampung Naga. Dari penelusuran beberapa sumber, memang ditemui beberapa versi sejarah asal mula Kampung Naga. Ada yang menyebutkan bahwa Singaparna ini sebenarnya adalah salah satu abdi dari Sunan Gunung Djati (Syarif Hidayatullah), yang ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke arah barat. Versi lain menceritakan bahwa dahulu kala ada serombongan orang dari suku Badui yang diusir oleh kepala sukunya. Rombongan ini kemudian sampai di Desa Neglasari dan menetap disana, yatu tempat Kampung Naga sekarang berada.

Sayangnya, kita rasanya hampir tidak mungkin lagi untuk menelusuri sejarah Kampung Naga ini melalui dokumentasi aslinya, karena banyak dokumen-dokumen kuno  yang berisi mengenai asal-usul Kampung Naga ludes terbakar ketika gerombolan DI/TII Kartosuwiryo membumhanguskan tempat ini pada tahun 1956. Sebagaian besar cerita sejarah tersebut hanya bersumber dari cerita-cerita yang dituturkan secara lisan oleh masyarakat adat Kampung Naga itu sendiri. Itupun biasanya masih disertai dengan pantangan-pantangan (tabu/pamali), yaitu ada topik-topik tertentu yang mereka enggan untuk menceritakannya kepada masyarakat luar karena topik itu hanya boleh dijelaskan oleh sang kuncen (kepala suku). Selain itu masyarakat Kampung Naga juga menganggap hari Selasa, Rabu, dan Sabtu sebagai hari pantangan untuk bercerita mengenai adat istiadat serta asal-usul masyarakat Kampung Naga.

Pemilihan nama Kampung Naga sendiri konon berasal dari “kampung dina gawir”. Dina dalam bahasa Sunda berarti “di” atau “dalam” sementara gawir artinya tebing atau jurang. Dengan demikian “kampung dina gawir” bisa diartikan sebagai kampung yang terletak di dalam (dasar) tebing/jurang. Ini merujuk pada lokasinya yang memang terletak di lembah, sehingga untuk menuju kesana harus menuruni tebing dahulu. Lama kelamaan, masyarakat setempat akhirnya menyingkat penyebutan “kampung dina gawir” ini menjadi Kampung di-Naga-wir saja.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s